Harga Baja Semakin Merosot Karena Kekhawatiran Resesi yang Semakin Cepat Seiring dengan Inflasi yang Membara
- Harga baja mengalami aksi jual karena Fed sedang mempersiapkan kenaikan suku bunga 1%.
- Meningkatnya permintaan mobil di Tiongkok bisa menjadi game changer.
- Datangnya musim hujan di Asia telah menunda aktivitas konstruksi.
Harga baja turun dengan kuat karena inflasi yang terik dalam ekonomi global telah meningkatkan kemungkinan situasi resesi. Tingkat inflasi meroket tinggi dalam ekonomi global dan untuk mengendalikan hal itu, bank sentral menaikkan suku bunga mereka seperti tidak ada hari esok.
Pada hari Rabu, laporan inflasi oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengguncang sentimen pasar. Rilis inflasi yang melonjak tinggi telah memperkuat peluang 100 basis poin (bp) oleh Federal Reserve (Fed). Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) tahunan AS sebesar 9,1% akan memaksa The Fed untuk membuat langkah bersejarah dan mendikte kenaikan suku bunga sebesar 1%.
Bank of Canada (BoC) telah mempercepat suku bunganya sebesar 1%. Oleh karena itu, the fed tidak akan mencari dukungan mental lebih lanjut dan akan mengumumkan hal yang tidak biasa.
Di sisi permintaan, meningkatnya permintaan untuk mobil di Tiongkok diperkirakan akan memacu permintaan baja ke depan. Produksi kendaraan otomotif bulan Juni di Tiongkok tercatat sebanyak 2,499 juta unit, yang lebih tinggi 29,7%, sesuai dengan Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM). Pola produksi mobil yang terus meningkat bisa menjadi pengubah permainan untuk harga baja.
Namun, katalis yang memangkas permintaan baja adalah datangnya musim hujan karena aktivitas konstruksi terhenti pada periode yang sama. Musim hujan telah melanda banyak provinsi di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya, yang mengakibatkan penundaan pembangunan perumahan, infrastruktur, dan kegiatan terkait lainnya.