Batu Bara ICE Newcastle di Area 136,40 saat Trump Pertimbangkan Operasi Tempur

  • Batu Bara ICE Newcastle belum menunjukkan pergerakan di sekitar 136,40 sejauh ini.
  • Presiden Trump mempertimbangkan operasi tempur di Timur Tengah.
  • Ada potensi pengembangan hydrogen dan ammonia berbasis batu bara di Indonesia.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 136,40 yang sama sekali belum bergerak setelah batu bara ini naik ke 137,00 pada hari kemarin, dalam sebuah upaya untuk menutup gap besar yang muncul pada pertengahan pekan lalu. Di tengah kosongnya pendorong spesifik untuk komoditas ini, para pedagang memerhatikan perkembangan di Timur Tengah untuk mengukur sentimen risiko secara umum untuk mencari petunjuk arah ke depan.

Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 54,03 terlihat bangkit kembali setelah datar di dekat level netral, mengindikasikan momentum bullish mulai berkembang. Simple Moving Average (SMA) 200-hari jauh di bawah harga juga mengindikasikan trennya masih naik.

Suhu di Pelabuhan Newcastle Australia sekitar 20°C pada saat berita ini ditulis. Namun demikian, ada peluang tinggi terjadinya hujan di sekitar pelabuhan dengan intensitas yang ringan. Cuaca tersebut tidak akan menjadi faktor yang memengaruhi harga selama proses pemuatan batu bara ke dalam kapal tidak terganggu dan jadwal pengiriman tetap sesuai jadwal.

Menyusul Amerika Serikat dan Iran yang saling menolak proposal perdamaian, Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan semakin serius untuk mempertimbangkan kelanjutan operasi tempur besar dibandingkan beberapa minggu sebelumnya, seperti diinformasikan CNN. Itu setelah Trump melakukan pertemuan dengan staf keamanan nasional untuk membahas pilihan-pilihan yang tersedia di depan.

Potensi kelanjutan konflik yang berimbas terganggunya distribusi komoditas-komoditas energi seperti minyak dan gas alam dari Timur Tengah mengangkat harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) naik 2,56% di area $97,88 di pada saat berita ini ditulis. Kelangkaan gas akibat peristiwa di atas dapat mendorong permintaan dan harga batu bara yang digunakan sebagai alternatif sumber pembangkit energi.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Tri Winarno, mengatakan, "Kami menyambut baik terselenggaranya Indonesia-China Coal and Energy Conference and Expo (ICEE) 2026 sebagai forum kolaboratif yang mampu memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok di sektor energi dan pertambangan".

Seperti dikutip dalam situs Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Tri Winarno menyebut baru bara tetap penting dalam ketahanan energi nasional terutama sumber utama energi pembangkit listrik ndonesia. Beliau menyebut Indonesia memiliki sumberdaya batu bara lebih dari 143 miliar ton.

Disebutkan juga soal pengembangan gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai subsitusi Liquefield Petroleum Gas (LPG) yang sebagian besar masih diimpor serta potensi pengembangan hydrogen dan ammonia berbasis batu bara. Selain untuk ketahanan energi, rencana-rencana tersebut dapat meningkatkan nilai tambah batu bara.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Dolar AS: Fokus Inflasi Membentuk Ekspektasi Suku Bunga – TD Securities

Para ekonom di TD Securities menyoroti bahwa imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih tinggi mengikuti berita ketegangan Timur Tengah dan pasokan yang akan datang, dengan perhatian kini beralih ke Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat (AS) bulan April
了解更多 Previous

Manufacturing Production Index (YoY) South Africa Maret Naik dari Sebelumnya -2.8% ke 0.9%

Manufacturing Production Index (YoY) South Africa Maret Naik dari Sebelumnya -2.8% ke 0.9%
了解更多 Next