Rupiah Melemah Tipis saat Libur Panjang, Dolar Bertahan Kuat Pasca Sinyal Hati-Hati The Fed
- Rupiah mendekati 17.000 di tengah pasar domestik yang tutup.
- Dolar AS stabil dengan bias menguat usai keputusan The Fed.
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai ditahan.
Pada perdagangan Kamis di pasar offshore – di tengah penutupan pasar domestik untuk libur panjang – rupiah diperdagangkan melemah tipis, dengan USD/IDR berada di sekitar 16.991 atau naik sekitar 0,36%. Pergerakan ini menempatkan rupiah dekat level psikologis 17.000, sekaligus bertahan di area atas rentang harian 16.954-17.057, mengindikasikan tekanan yang masih terjaga. Dari sisi teknis, laju pergerakan USD/IDR memperlihatkan kenaikan bertahap sejak pertengahan Maret, mencerminkan permintaan dolar yang tetap solid meski belum membentuk dorongan agresif.
Dengan likuiditas domestik yang menipis, arah rupiah lebih banyak dipandu oleh dinamika eksternal – mulai dari pergerakan dolar AS, ekspektasi kebijakan The Fed, hingga perkembangan geopolitik dan harga energi. Sejalan dengan itu, Indeks Dolar AS (DXY) terlihat stabil mengarah naik di awal sesi Eropa, diperdagangkan di sekitar 100,2 setelah menguji area resistance terdekat, menandakan momentum dolar masih terjaga pasca keputusan The Fed meski belum berkembang menjadi tren penguatan yang lebih luas.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dengan pendekatan yang tetap bergantung pada data. Ekonomi AS dinilai masih berkembang cukup baik, dengan konsumsi yang terjaga meski sektor perumahan melemah dan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target dan dipengaruhi oleh harga barang serta energi, membuat bank sentral cenderung berhati-hati dalam menentukan langkah berikutnya.
Nada kebijakan The Fed mengarah pada sikap yang lebih terukur, dengan ruang pemangkasan suku bunga yang tidak sepenuhnya terbuka – terutama jika tekanan inflasi kembali meningkat. Proyeksi terbaru juga menunjukkan laju pelonggaran yang lebih lambat, sementara inflasi diprakirakan turun secara bertahap dan pertumbuhan tetap stabil. Dalam konteks ini, pasar mulai menata ulang ekspektasi, mengevaluasi kembali arah kebijakan di tengah ketidakpastian inflasi yang masih membayangi.
Menjelang pembukaan kembali pasar domestik pada 25 Maret, pergerakan rupiah berpotensi mencerminkan akumulasi sentimen global selama periode libur. Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan dolar AS mempertahankan momentumnya serta perkembangan inflasi dan harga energi dalam beberapa hari ke depan. Dengan tekanan yang masih terlihat di area saat ini, pelaku pasar kemungkinan akan masuk kembali dengan pendekatan lebih selektif, sambil menyusun ulang perhitungan risiko antara ketahanan rupiah dan tekanan eksternal yang masih bergerak dinamis.
Sementara itu, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi AS yang dirilis malam ini, termasuk Klaim Tunjangan Pengangguran awal yang diprakirakan berada di kisaran 215 ribu, survei manufaktur The Fed Philadelphia untuk bulan Maret, serta data penjualan rumah baru bulanan. Rangkaian rilis ini akan menjadi referensi tambahan dalam menilai kondisi pasar tenaga kerja, aktivitas manufaktur, dan sektor perumahan, sekaligus membentuk ekspektasi arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Indikator Ekonomi
Survei Manufaktur The Fed Philadelphia
Survei Manufaktur Fed Philadelphia adalah indeks penyebaran kondisi manufaktur (gerakan manufaktur) dalam Federal Reserve Bank of Philadelphia. Survei ini, disajikan sebagai indikator manufaktur tren sektor, yang terkait dengan manufaktur ISM Index (Institute for Supply Management) dan indeks produksi industri. Hal ini juga digunakan sebagai perkiraan Indeks ISM. Umumnya, pembacaan di atas harapan dipandang sebagai positif bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Mar 19, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 10
Sebelumnya: 16.3
Sumber: Federal Reserve Bank of Philadelphia