Rupiah Lanjutkan Penguatan ke 16.773, Fokus Pasar Tertuju pada Data Inflasi AS dan Risiko Fiskal

  • Rupiah naik 0,22% ke 16.773 per dolar AS, bergerak dalam rentang 16.748–16.791.
  • Surplus dagang Januari diperkirakan melebar, namun inflasi dan risiko fiskal tetap dicermati.
  • Pasar menanti rilis IHP AS; kejutan inflasi berpotensi menentukan arah rupiah.

Rupiah menguat pada perdagangan Jumat, melanjutkan kenaikan sesi sebelumnya, di tengah kombinasi sentimen domestik dan dinamika global yang membentuk arah pergerakan mata uang kawasan.

Mata uang Garuda ini berada di 16.773 per dolar AS, menguat 37 poin atau sekitar 0,22% dibanding penutupan Kamis di 16.737. Sepanjang sesi, pasangan mata uang USD/IDR bergerak dalam rentang 16.748 hingga 16.791. Di pasar spot, kuotasi beli tercatat di 16.772 dan jual di 16.775, menunjukkan likuiditas tetap terjaga menjelang perdagangan sesi Eropa.

Penguatan ini mengikuti kinerja positif sehari sebelumnya, dengan adanya intervensi Bank Indonesia yang membantu menjaga stabilitas di sekitar level 16.750. Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar memprakirakan USD/IDR akan bergerak dalam kisaran 16.730-16.820.

Dari sisi fundamental, jajak pendapat Reuters menunjukkan surplus perdagangan Indonesia pada Januari diprakirakan meningkat menjadi US$2,76 miliar dari US$2,52 miliar pada Desember. Ekspor diproyeksikan tumbuh 11,07% secara tahunan, sementara impor naik lebih cepat 13,23%. Sementara itu, inflasi Februari diprakirakan meningkat ke 4,31% dari 3,55% pada Januari, dengan inflasi inti naik tipis ke 2,48%. Bank Indonesia menargetkan inflasi 1,5%-3,5% untuk periode 2026-2027.

Namun, risiko fiskal tetap menjadi perhatian. S&P Global Ratings menilai lonjakan beban bunga utang pemerintah berpotensi mempersempit ruang fiskal. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa jika rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara bertahan di atas 15% dalam jangka panjang, peluang revisi negatif peringkat kredit dapat meningkat. Meski demikian, S&P mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan prospek stabil. Pernyataan ini menyusul langkah Moody’s yang lebih dulu menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif awal Februari.

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor baru sebesar 15% setelah Mahkamah Agung membatalkan skema tarif sebelumnya. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut tarif itu masih bisa dinaikkan untuk sejumlah negara.

Sementara itu, pejabat The Fed seperti Austan Goolsbee dan Stephen Miran memberi sinyal suku bunga berpeluang turun tahun ini, namun tetap berhati-hati terhadap inflasi. Miran memprakirakan ruang pemangkasan sekitar 1%, dengan ekonomi dan pasar tenaga kerja dinilai masih solid.

Sejumlah data penting Amerika Serikat akan dirilis malam ini, Jumat (27 Februari), dengan fokus utama pada Indeks Harga Produsen (IHP) Januari. Secara konsensus, IHP bulanan diprakirakan naik 0,3% setelah sebelumnya 0,5%, sementara secara tahunan diproyeksikan melambat ke 2,6% dari 3,0%. Untuk IHP inti – di luar pangan dan energi – kenaikan diprakirakan sebesar 0,3% secara bulanan dari 0,7%, dan 3,0% secara tahunan dari 3,3%. Sementara itu, PMI Chicago Februari diprakirakan turun ke 52,8 dari 54. Jika inflasi lebih tinggi dari prakiraan, dolar berpotensi menguat dan menekan rupiah; sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberi ruang penguatan bagi rupiah.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Feb 27, 2026 13.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 2.6%

Sebelumnya: 3%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics


Prakiraan Harga USD/JPY: Harga di Atas EMA 20-Hari Mendukung Bias Bullish Jangka Pendek

Pasangan mata uang USD/JPY turun 0,2% ke dekat 155,80 selama sesi perdagangan Eropa pada hari Jumat. Pasangan ini mengoreksi kembali seiring Yen Jepang (JPY) melanjutkan pemulihan dengan harapan intervensi dari Jepang
Mehr darüber lesen Previous

USD/CAD Turun Mendekati 1,3650 saat Minyak Memulihkan Kerugian Baru-baru Ini

USD/CAD terdepresiasi setelah bertahan di sesi sebelumnya, diperdagangkan sekitar 1,3660 selama perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Pasangan mata uang ini kehilangan nilai karena Dolar Kanada (CAD) mendapat dukungan dari perbaikan harga minyak, mengingat status Kanada sebagai pengekspor minyak mentah terbesar ke Amerika Serikat (AS)
Mehr darüber lesen Next