Rupiah Cenderung Defensif, Intervensi BI Stabilkan Kurs di Tengah Tekanan DNDF dan Penguatan Dolar

  • USD/IDR bergerak stabil terbatas meski intervensi BI menahan volatilitas.
  • Data ekonomi AS kembali memperkuat dolar, menekan ruang pemulihan rupiah.
  • Sentimen tambahan datang dari faktor hukum tarif Trump dan shutdown pemerintah AS.

Pada sesi Kamis sore, USD/IDR bergerak stabil di area 16.703 per dolar AS, menguat tipis sekitar 0,10% dibanding pembukaan, mencerminkan pola perdagangan yang lebih berhati-hati setelah volatilitas sempat meningkat di hari sebelumnya. Rupiah pada dasarnya mempertahankan mode defensif sejak sesi Rabu, ketika nilai tukar sempat tertekan hingga menyentuh 16.745 akibat jatuh tempo Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sekitar USD 245 juta yang menambah kebutuhan likuiditas dolar di pasar spot.

Intervensi aktif Bank Indonesia – mulai dari penyediaan DNDF baru, stabilisasi pasar SBN untuk meredam tekanan imbal hasil, hingga optimasi manajemen devisa eksportir – mampu mengurangi tekanan jual lebih dalam dan menjaga spot kembali stabil di rentang 16.720 menjelang sesi Kamis. Dengan fase eksekusi DNDF utama telah terlewati, fokus pelaku pasar mulai bergeser dari tekanan jangka sangat pendek ke arah dinamika dolar global dan keberlanjutan pola intervensi BI menjelang akhir pekan, terutama dalam konteks apakah volatilitas eksternal masih terakselerasi atau justru mulai mereda.

Basis Domestik Tetap Konstruktif

Sementara itu, rilis pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III masih menunjukkan daya tahan, dengan GDP tumbuh 5,04% YoY sedikit di atas konsensus 5%, meski sedikit melambat dari 5,12% pada kuartal sebelumnya. Secara triwulanan, ekonomi naik 1,43% QoQ, sejalan dengan ekspektasi 1,4%. Momentum ini menjaga fondasi makro tetap stabil, namun belum cukup kuat untuk mengimbangi dominasi dolar AS dalam jangka pendek, sehingga sensitivitas rupiah tetap sangat ditentukan oleh arah kebijakan The Fed.

Dolar Tetap Dominan setelah Data Jasa dan Tenaga Kerja AS Menguat

Dari eksternal, data AS yang dirilis Rabu malam menunjukkan sektor jasa dan tenaga kerja masih kokoh. Laporan Ketenagakerjaan ADP melonjak 42 ribu di atas konsensus 25 ribu, PMI Jasa ISM naik ke 52,4, New Orders Services menguat ke 56,2, sementara Prices Paid Services bertahan tinggi di 70.

"Pemberi kerja swasta menambahkan lapangan pekerjaan pada bulan Oktober untuk pertama kalinya sejak Juli, tetapi perekrutan masih moderat dibandingkan awal tahun," ujar Dr. Nela Richardson, Kepala Ekonom ADP.

Pertumbuhan upah yang datar juga mengindikasikan penawaran dan permintaan tenaga kerja seimbang. Kombinasi ini membuat pasar melihat ruang pelonggaran The Fed masih sempit, sehingga dolar tetap dominan dan menahan kapasitas rebound rupiah meski intervensi BI agresif.

Secara teknis, Indeks Dolar (DXY) sempat menembus area psikologis 100 dan kini mulai memasuki fase konsolidasi ringan di sekitar level tersebut, mengindikasikan bahwa tren penguatan dolar mulai kehilangan momentum setelah menyentuh area tertinggi 100,36.

Risiko Politik AS Menambah Ketidakpastian Eksternal

Selain itu, tarif menyeluruh Trump kini memasuki fase pengujian serius di Mahkamah Agung, di mana pemerintah berusaha memposisikan tarif sebagai instrumen regulasi dagang – bukan pajak. Skeptisisme hakim memunculkan potensi bahwa legitimasi kebijakan tarif tersebut bisa kembali dipertanyakan bila MA menyimpulkan ranah fiskal seharusnya tetap berada di Kongres. Di saat bersamaan, shutdown pemerintah AS telah memasuki pekan keenam dan menjadi yang terlama dalam sejarah, memicu kekhawatiran erosi kinerja ekonomi. CBO memprakirakan potensi penurunan PDB 1-2% di kuartal IV, yang berpotensi mengurangi tenaga rally dolar yang sebelumnya menguat.

Rupiah Bergerak Hati-Hati Menjelang Panduan Verbal The Fed

Sementara untuk malam ini, agenda data AS relatif ringan, dengan beberapa rilis seperti Biaya Unit Buruh dan Produktivitas Non-Pertanian kemungkinan tidak dirilis. Kondisi tersebut membuat pasar diperkirakan lebih fokus pada rangkaian pidato pejabat The Fed sebagai katalis utama arah dolar, sehingga dalam jangka pendek rupiah berpotensi tetap bergerak hati-hati sepanjang sesi Kamis, dengan sensitivitas pergerakan sangat ditentukan oleh tone komunikasi The Fed terhadap prospek suku bunga.

Pertanyaan Umum Seputar The Fed

Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.

Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.

Pasar Gas Uni Eropa Hadapi Risiko Musim Dingin di Tengah Aksi Jual Besar-besaran – ING

Beralih ke Gas Alam, data posisi terbaru menunjukkan bahwa dana investasi mengurangi posisi beli bersih mereka di TTF sebesar 24,8 TWh selama minggu lalu menjadi 21,4 TWh, beli bersih terkecil yang dipegang sejak Maret 2024, catat para ahli komoditas ING Ewa Manthey dan Warren Patterson.
Devamını oku Previous

Pejabat ECB, de Guindos: Optimis terhadap Pertumbuhan dan Inflasi Jasa

Wakil Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), Luis de Guindos, mengatakan dalam webinar ">Tantangan Kebijakan Saat Ini di Zona Euro" melalui siaran langsung online pada hari Kamis bahwa ia merasa nyaman dengan posisi suku bunga saat ini.
Devamını oku Next