Rupiah Melemah Tipis di Tengah Konsolidasi Dolar dan Optimisme Domestik

  • Rupiah masih dalam rentang konsolidasi, bergerak di Rp16.586 menjelang sesi Eropa.
  • DXY masih konsolidasi di bawah 99 jelang Beige Book dan pidato pejabat The Fed.
  • IMF dan Menkeu Purbaya menilai fundamental Indonesia tetap kuat meski risiko global meningkat.

Menjelang sesi Eropa pada Senin, rupiah melemah tipis terhadap dolar AS, dengan kurs USD/IDR naik 29,2 poin (+0,18%) ke level Rp16.586 per dolar. Kisaran perdagangan harian yang sempit di Rp16.558-Rp16.594 menunjukkan pasar masih berhati-hati. Secara teknis, rupiah masih berada di fase konsolidasi setelah sempat tertekan hingga mendekati Rp16.800 pada akhir September. Dalam beberapa sesi terakhir, pergerakan cenderung datar di kisaran Rp16.500-Rp16.600, mencerminkan sikap tunggu pelaku pasar terhadap arah kebijakan The Fed dan rilis data ekonomi global.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) juga memperlihatkan kecenderungan serupa, turun tipis 0,14% ke 98,898, melanjutkan konsolidasi setelah rally tajam di awal Oktober. Pelemahan ringan ini menunjukkan pasar mulai memperhitungkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh Ketua Jerome Powell.

Menkeu Purbaya Tegaskan Ketahanan Ekonomi dan Kredibilitas Fiskal di Tengah Tekanan Global

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat APBN Kita edisi Oktober 2025 menyampaikan bahwa kinerja ekonomi dan fiskal Indonesia hingga September tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Ia menyoroti penurunan imbal hasil SBN 10 tahun ke 6,09%, penguatan IHSG 16,6%, dan surplus neraca perdagangan sebesar US$32,3 miliar sebagai bukti kepercayaan investor yang meningkat. Meski rupiah masih melemah 2,8% secara tahunan, ia optimistis arus modal asing akan kembali masuk pada kuartal IV, membuka peluang penguatan rupiah.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II mencapai 5,12%, inflasi terkendali di 2,65%, dan defisit APBN hanya 1,56% PDB dengan keseimbangan primer positif. Penempatan Rp200 triliun di Himbara disebut telah menurunkan suku bunga antarbank serta mempercepat penyaluran kredit produktif. Dengan kombinasi ini, APBN 2025 dinilai adaptif dan kredibel, menjaga keseimbangan antara pemulihan ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Sejalan dengan ketahanan domestik tersebut, pandangan eksternal pun memberikan penegasan serupa.

IMF Soroti Ketahanan Indonesia di Tengah Risiko Global dan Dampak Tarif AS

Laporan IMF Global Financial Stability Report (Oktober 2025) turut menegaskan ketahanan Indonesia di antara 14 emerging market utama. IMF menilai struktur fiskal dan moneter Indonesia kuat, didukung pendalaman pasar obligasi lokal. Namun, risiko tetap ada dari keterkaitan bank-pemerintah serta potensi tekanan likuiditas bila imbal hasil global naik.

Di tingkat global, IMF memperingatkan dampak negatif dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump, yang diprakirakan menekan pertumbuhan dunia ke 3,2% pada 2025 dan 3,1% pada 2026, jauh di bawah rata-rata pra-pandemi. Pertumbuhan AS diproyeksikan melambat ke 2%, dengan inflasi bertahan di 2,7%, sementara Tiongkok 4,8% dan zona euro 1,2%.

Perang Dagang Memanas Lagi, Powell Isyaratkan Arah Kebijakan The Fed Lebih Netral

Di tengah proyeksi perlambatan global versi IMF, dinamika geopolitik kembali memanas. Ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok meningkat menjelang penerapan tarif 100% terhadap produk Tiongkok pada 1 November. Langkah terbaru datang dari Beijing yang menjatuhkan sanksi terhadap lima unit Hanwha Ocean Co. di Amerika Serikat, memperluas lingkaran konflik dagang kedua negara. Presiden Trump menuding Beijing sengaja menghentikan pembelian kedelai dan mempertimbangkan pelarangan impor minyak goreng dari Tiongkok sebagai langkah balasan.

Situasi ini menunjukkan hubungan ekonomi AS-Tiongkok makin menjauh dari kompromi. Setelah sinyal damai sempat muncul, Washington kembali bersikap konfrontatif, sementara Beijing membalas lewat kebijakan yang menekan rantai pasok dan perdagangan komoditas. Eskalasi ini menambah tekanan pada pasar global dan meningkatkan volatilitas mata uang Asia.

Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell dalam pidatonya di National Association for Business Economics (NABE) menegaskan ekonomi AS masih stabil, meski risiko pelemahan pasar tenaga kerja meningkat. Ia menyebut peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka pada pertemuan 28-29 Oktober, dengan kebijakan moneter kini bergerak ke arah yang lebih netral. Powell juga menegaskan tekanan harga lebih banyak berasal dari tarif perdagangan, bukan dari inflasi yang meluas.

Pasar Menanti Sinyal The Fed, Rupiah Bertahan di Fase Konsolidasi

Selanjutnya, fokus pasar malam ini tertuju pada serangkaian pidato pejabat The Fed seperti Waller dan Schmid, serta publikasi Beige Book yang akan memberikan gambaran terbaru kondisi ekonomi AS menjelang keputusan FOMC akhir bulan. Pasar valuta asing diprakirakan tetap bergerak hati-hati, dengan rupiah cenderung stabil di kisaran 16.500-16.600, mengikuti pola konsolidasi dolar yang belum menemukan arah baru.

Indikator Ekonomi

Beige Book Federal

Laporan Beige Book pada situasi ekonomi AS saat ini. Melalui wawancara dengan kontak bisnis penting, ekonom, ahli pasar, dan sumber lainnya dikumpulkan oleh masing-masing 12 Distrik Federal Reserve. Survei ini memberikan gambaran dari pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan. Pandangan optimis otoritas tersebut dianggap sebagai positif, atau bullish bagi USD, sedangkan pandangan yang pesimis dianggap sebagai negatif, atau bearish bagi Dollar.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Okt 15, 2025 18.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: -

Sebelumnya: -

Sumber: Federal Reserve

Harga Minyak Mentah Hari ini: Harga WTI Bearish pada Pembukaan Sesi Eropa

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun pada hari Rabu, di awal sesi Eropa. WTI diperdagangkan di $58,19 per barel, turun dari penutupan hari Selasa di $58,22. Kurs Minyak Brent (minyak mentah Brent) juga mengalami penurunan, diperdagangkan di $62,00 setelah penutupan harian sebelumnya di $62,07.
Đọc thêm Previous

Indeks Harga Konsumen (Normatif UE) (Thn/Thn) Perancis September sesuai Prakiraan 1.1%

Indeks Harga Konsumen (Normatif UE) (Thn/Thn) Perancis September sesuai Prakiraan 1.1%
Đọc thêm Next