Rupiah Melemah Tipis di Tengah Melebarnya Defisit Transaksi Berjalan dan Kontras Kebijakan BI-The Fed
- Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp16.278,5 per dolar AS di tengah bayang-bayang sikap hawkish The Fed.
- Defisit transaksi berjalan Indonesia Kuartal 2 melebar ke USD 3,0 miliar, NPI defisit USD 6,7 miliar.
- BI memangkas BI-Rate ke 5,00% guna mendukung pembiayaan, meski kredit tumbuh lambat 7,03% yoy dan bunga kredit masih tinggi.
Di tengah tekanan eksternal yang belum mereda, rupiah hanya mencatat pelemahan tipis, meskipun sejumlah indikator domestik mulai menunjukkan kecenderungan melemah. Pada Kamis di awal sesi Eropa, rupiah Indonesia (IDR) bergerak di level Rp16.286,5 per dolar AS (USD), melemah 3,5 poin atau setara 0,02% dibanding hari sebelumnya. Hari ini, pasangan mata uang USD/IDR diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp16.230-Rp16.300, dengan potensi pergerakan yang lebih tajam mengikuti sinyal pelonggaran lebih lanjut dari Bank Indonesia.
Defisit Transaksi Berjalan Melebar, BI Pangkas Suku Bunga Acuan ke 5,00%
Pada Kuartal 2 2025, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar USD 3,0 miliar atau 0,8% dari PDB – memang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya (USD 0,2 miliar). Penurunan harga minyak menyempitkan defisit neraca migas, sementara remitansi PMI dan hibah mendorong surplus neraca pendapatan sekunder.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal yang sama mengalami defisit USD 6,7 miliar, terutama akibat tekanan portofolio yang mendorong defisit transaksi modal dan finansial sebesar USD 5,2 miliar. Meski begitu, cadangan devisa tetap tinggi di USD 152,6 miliar atau setara 6,1 bulan impor, menandakan ketahanan eksternal tetap terjaga.
Bank Indonesia mengambil langkah pre-emptive melalui RDG 19-20 Agustus dengan menurunkan BI-Rate sebesar 25 bp ke 5,00%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing disesuaikan ke 4,25% dan 5,75%. Langkah ini menandai penurunan total 100 bp sejak September 2024. BI menegaskan kebijakan diarahkan untuk memperkuat transmisi moneter, menstabilkan nilai tukar, dan mempercepat pemulihan ekonomi melalui bauran kebijakan makroprudensial, intervensi terukur, dan digitalisasi pembayaran lintas negara.
Namun, transmisi ke sektor riil belum optimal, tercermin dari perlambatan kredit menjadi 7,03% pada Juli. Kredit konsumsi dan modal kerja belum pulih akibat suku bunga tinggi di kisaran 9,16%, meski sektor investasi masih menopang. Untuk mendorong pembiayaan produktif, BI mengarahkan insentif likuiditas Rp384 triliun ke sektor prioritas seperti pertanian, pariwisata, dan ekonomi hijau.
Ke depan, BI tetap optimistis terhadap stabilitas eksternal. Proyeksi defisit transaksi berjalan berada pada kisaran rendah 0,5%-1,3% PDB, sementara ekspektasi aliran modal asing dan persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik mendukung surplus transaksi modal dan finansial. Ini memberikan ruang strategis bagi rupiah untuk tetap resilien di tengah dinamika global.
Sikap Powell Belum Bergeser, Dolar Bertahan Tapi Rentan Pelemahan Asimetris
Sementara itu, dari sisi eksternal, dinamika The Fed tetap menjadi pusat perhatian. Risalah rapat FOMC 29-30 Juli menyiratkan sikap hati-hati: suku bunga dipertahankan di 4,25%-4,50%, dengan perdebatan internal mengenai seberapa besar dampak tarif terhadap inflasi. Beberapa peserta melihat ruang penyesuaian kebijakan tanpa perlu menunggu kepastian penuh. Proyeksi PDB 2025-2027 tetap sesuai dengan estimasi Juni, dan penguatan instrumen repo permanen menjadi fokus.
Analis Valas Commerzbank, Antje Praefcke, mencermati bahwa data ekonomi AS tetap beragam. Inflasi masih di atas target, pasar tenaga kerja melemah namun belum runtuh, dan konsumsi tetap kuat. Dalam situasi ini, Praefcke menilai bahwa dolar AS bisa tetap kokoh dalam jangka pendek jika Powell mempertahankan retorika hati-hati. Namun, ia menekankan bahwa tekanan penurunan dolar bersifat asimetris — lebih mudah melemah ketimbang menguat – mengingat tekanan struktural yang masih menekan greenback.
Di sisi politik, Presiden AS Donald Trump menyerang Gubernur The Fed Lisa Cook dengan mendorong penyelidikan hukum terkait hipoteknya. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menautkan laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa Jaksa Agung Pam Bondi didesak untuk menyelidiki pejabat The Fed tersebut. Cook menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan dan akan menjawab pertanyaan secara faktual.
Rupiah Berusaha Bertahan di Tengah Perbedaan Kebijakan Moneter
Perbedaan arah kebijakan antara BI dan The Fed mulai menekan rupiah dari sisi arus modal, seiring suku bunga domestik yang lebih rendah mempersempit daya tarik aset rupiah. Sementara itu, suku bunga tinggi di AS masih menjaga minat terhadap dolar. Meski tekanan eksternal belum mereda, cadangan devisa yang kuat dan respons kebijakan BI memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar tetap terjaga dalam jangka pendek.
Investor kini menilai ulang posisi mereka di pasar mata uang, di tengah ketidakpastian global dan dinamika politik AS. Indeks dolar (DXY) bertahan di 98,38, menjauh dari level terendah pekan lalu. Jika The Fed belum memberi sinyal pemangkasan, dolar bisa lanjut menguat, meski ruang apresiasinya terbatas – memberi peluang bagi rupiah untuk menguat lebih stabil, terutama jika fundamental domestik terus diperkuat.
Pertanyaan Umum Seputar Bank-Bank Sentral
Bank Sentral memiliki mandat utama yaitu memastikan adanya stabilitas harga di suatu negara atau kawasan. Perekonomian terus-menerus menghadapi inflasi atau deflasi ketika harga barang dan jasa tertentu berfluktuasi. Kenaikan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti inflasi, penurunan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti deflasi. Tugas bank sentral adalah menjaga permintaan tetap sesuai dengan mengubah suku bunga kebijakannya. Bagi bank sentral terbesar seperti Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE), mandatnya adalah menjaga inflasi mendekati 2%.
Bank sentral memiliki satu alat penting yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan inflasi, yaitu dengan mengubah suku bunga acuannya, yang umumnya dikenal sebagai suku bunga. Pada saat-saat yang telah dikomunikasikan sebelumnya, bank sentral akan mengeluarkan pernyataan dengan suku bunga acuannya dan memberikan alasan tambahan terkait mengapa bank ini mempertahankan atau mengubahnya (memotong atau menaikkan). Bank-bank lokal akan menyesuaikan suku bunga tabungan dan pinjaman mereka, yang pada gilirannya akan mempersulit atau mempermudah orang untuk mendapatkan penghasilan dari tabungan mereka atau bagi perusahaan-perusahaan untuk mengambil pinjaman dan melakukan investasi dalam bisnis mereka. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga secara substansial, hal ini disebut pengetatan moneter. Ketika memotong suku bunga acuannya, maka disebut pelonggaran moneter.
Bank sentral sering kali independen secara politik. Anggota dewan kebijakan bank sentral melewati serangkaian panel dan sidang sebelum diangkat ke kursi dewan kebijakan. Setiap anggota di dewan tersebut sering kali memiliki keyakinan tertentu tentang bagaimana bank sentral harus mengendalikan inflasi dan kebijakan moneter berikutnya. Anggota yang menginginkan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga rendah dan pinjaman murah, untuk meningkatkan ekonomi secara substansial semantara merasa puas melihat inflasi sedikit di atas 2%, disebut 'dove'. Anggota yang lebih suka melihat suku bunga yang lebih tinggi untuk menghargai tabungan dan ingin menjaga inflasi tetap rendah setiap saat disebut 'hawk' dan tidak akan beristirahat sampai inflasi mencapai atau sedikit di bawah 2%.
Biasanya, ada ketua atau presiden yang memimpin setiap rapat, perlu menciptakan konsensus antara pihak yang mendukung atau menentang kebijakan moneter dan memiliki keputusan akhir ketika keputusan harus diambil berdasarkan suara yang terbagi untuk menghindari hasil seri 50-50 mengenai apakah kebijakan saat ini harus disesuaikan. Ketua akan menyampaikan pidato yang sering kali dapat diikuti secara langsung, di mana sikap dan prospek moneter saat ini dikomunikasikan. Bank sentral akan mencoba untuk mendorong kebijakan moneternya tanpa memicu perubahan tajam pada suku bunga, ekuitas, atau mata uangnya. Semua anggota bank sentral akan mengarahkan sikap mereka ke pasar sebelum acara rapat kebijakan. Beberapa hari sebelum rapat kebijakan berlangsung hingga kebijakan baru dikomunikasikan, anggota dilarang berbicara di depan umum. Hal ini disebut periode blackout.